kamu benar,
bahwa didunia ini tidak ada yang setia.
kecuali tuhan kita.
bahkan kita pun, tak setia.
kamu dengan dia.
aku dengan penyesalanku.
aku dengan patahku.
kamu dengan ketidakmampuanmu menjaga aku.
salah apa aku?
kurang apa aku?
kamu benar,
bahwa didunia ini tidak ada yang setia.
kecuali tuhan kita.
bahkan kita pun, tak setia.
kamu dengan dia.
aku dengan penyesalanku.
aku dengan patahku.
kamu dengan ketidakmampuanmu menjaga aku.
salah apa aku?
kurang apa aku?
Kamu barangkali menyadarinya,
karena akupun menyadarinya.
semakin kita berjalan,
semakin tanpa kesan,
semakin nampak pula kamu bosan.
Semakin kita berjalan pula,
rasanya amat berat berdampingan,
denganmu.
yang
makin
jauh
dan tak lagi kukenal.
ada apa?
sudah mencintai yang lain?
kenapa?
aku terlalu banyak kali membuatmu kesal diri?
aku sering memusingkan isi kepala dan hati?
aku terlalu merepotkan?
banyak pula aku dengar,
ia lebih cantik.
ia lebih menarik.
inginnya aku biasa, menghiraukan segalanya.
tapi aku perempuan,
perempuan biasa.
sudahlah, aku gakuat.
kalo memang cinta dia, dan dia bisa lebih bersabar dari aku,
bersamai dia.
maaf ya,
untuk selalu tidak mendengarkanmu.
yang diutamakan olehku hanya egoku.
maaf ya,
jika pening dikepalamu itu adalah karena "aku"
maaf ya,
jika banyak ketidak adilan yang kamu terima atas menyayangiku,
kamu begitu baik, sedang aku jauh dari baik.
kamu begitu sayang, sedang aku masih banyak meragukan.
maaf ya,
jika banyak hal yang terenggut karena aku,
dan maaf lagi,
membuatmu kesal berulang kali hanya untuk aku yang menyebalkan ini.
lain kali, biar aku mengusahakan sendiri.
memenuhi hakmu,
dan membalas juga kebaikan-kebaikanmu.
maafkan aku ya,
yang datang merebut hatimu, tapi banyak merenggut hal hal dihidupmu.
maafkan aku juga ya,
yang masih menomor satukan egoku,
melupakan lipatan lipatan masalah di otakmu,
dan melupakan kebahagiaanmu.
masih boleh aku menyayangimu dengan segala kegagalanku sebagai pendamping ini?
masih boleh aku menjadi alasanmu melekukkan pipimu selepas banyak bebanmu karena aku yang tak begitu baik ini?
tak perlu membaca isi, cukup dengan membaca judul kau sudah paham tentunya dengan ini.
sejauh ini denganku,
selama ini bersamaku,
dan seerat ini genggamanmu,
makin hari aku faham aku makin menjadi.
tak memperbolehkan mu serba itu dan ini.
marah karna hal hal kecil .
dan banyak berprasangka akan hal nihil .
sebenarnya ,
hanya satu alasan.
ini adalah bentuk kembali.
bagaimana kau dulu memperlakukan aku,
dan sekarang kembali kepada ,aku memperlakukanmu demikian.
disengaja? tidak.
inginnya aku tak begitu.
inginnya aku sepenuhnya engkau merasa ada dan nyaman.
engkau merasa berada di rumah yang hangat, tak banyak percikan amarah yang ada hanya cerita dan kita.
tapi bagaimana bisa,
ketika kita berjarak,
tapi...
sudahlah
aku wis raiso soksokan nulis puitissssssssssssss
emosiiiyyyyy
cemburuuuuuu
mbohhhhhhhhh.
semakin manusia mencintai manusia yang lain,
maka semakin dan semakin pula ia ingin selalu ada didekatnya,
tahu tiap langkah yang ia ketukkan,
tahu tiap detik apa yang ia lakukan,
dan tahu tiap apa yang ia pandang,
tapi menyebalkannya,
tak bisa jauh juga.
jikapun jauh, rasanya juga tak mau.
jikapun jauh, yang ada difikiran hanya ia tak menjaga, ia beralih, dan ia tak lagi "disini".
inginnya aku tak berfikiran seperti itu,
tapi bagaimana lagi,
resiko tiap kedekatan kita berbuah seperti ini.
aku cemburu? iya jelas.
tak terima? apalagi.
rasanya seperti dikhianati, tak dipercaya lagi.
padahal, aku tau...
itu hanya ada difikiranku.
apalagi yang bisa aku lakukan?
selain bersikap biasa saja,
selain bersikap iya iya saja.
dan tetap menganggap segalanya untuk menjadi sebuah "ketidak-apa-apa-an".
hahaha.
yasudah, tak berharap kau baca.
lebih lebih tak berharap kau ketahui.
aku menulis sudah lebih dari cukup sebagai obat.