Senin, 24 September 2018

Hai

hai..

apa kabarmu hari ini?
berat kah? sebagaimana hariku?
ah,kurasa hanya aku yang berlebihan memaknai segala perjuangan dengan berat.

kamu, tetap bersediakan selalu ku tulis disini?
ya harusnya sih,iya..

memang, wanita mana yang sudi menuliskanmu puisi selain aku? hehe

bagaimanapun,
disini adalah tempatku.
tempat ternyaman kedua bagiku setelah tuhanku.

dan..
menuliskan tentangmu disini, adalah wujud ku memberikan cara mencintaimu yang tak henti.
jadi,biar bisa ku baca tiap kali.
setiap ada rindu yang membebani, atau untuk meredam emosi tiap kita berkelahi.

suatu saat, ketika aku tidak ada..
kau akan menemukan catatannya,segalanya.

dan, untuk sekarang.
izinkan aku menuliskannya hingga menyelesaikannya,
untukmu^^

selamat malam,aku rindu.

Selasa, 18 September 2018

Jahat

yang aku pahami selama ini,
aku adalah yang tidak pernah disyukuri,
hadir maupun pergi bukan lagi persoalan yang membebani.
ada maupun tiada, bukan lagi menjadi urusan membelitkan.

pada intinya,
aku adalah yang tidak pernah di inginkan.
sebaik apa, sematimatian apa aku memperjuangkan,
akhirnya,
bukan untuk aku segalanya ditujukan.

aku? kurang apa?

mencintaimu dengan sungguh aku bisa.
menunggumu aku bersabar.
menghadapi kerasmu aku melunak.
berhadapan dengan egomu aku memilih mengalah.

jikapun,
menurutmu yang lain adalah lebih bisa menerimamu,
yang lain lebih mampu bersabar menghadapimu,
dan yang lain lebih bertabah diri menghadapimu,
bersamai ia, jangan lagi bersamaku.

apalah aku..
wanita paling suka berlemah diri,
tak kuat dengan segala bentuk cemburu hati,
tak paling bisa membendung segalanya seorang diri,
diam menjadi aji paling terbaik ketika tersakiti.

ya memang,
apa bisaku?
nyatanya, aku tak pernah cukup dimatamu.
berbalik dengan mu dimataku,
engkau adalah cukup yang lebih
engkau adalah yang tidak dibandingkan dengan yang lain
engkau adalah yang menang sekalipun tidak ada perlombaan
engkau adalah yang...
terbaik.

engkau selalu indah dimataku,
selalu menjadi bagian dari doaku,
selalu menjadi bagian dari tujuanku,
dan kuharapkan menjadi akhirku.

sekalipun,
terlampau banyak lakilaki kuhindari,
terlampau banyak tawaran kebahagiaan dari hati yang lain,
dan terlampau banyak yang lebih baik.
tapi,
dimataku,
hanya engkau.
cukup bagiku.

ternyata,
aku terlalu pemaksa.
kembali kepada faktanya,
aku tak pernah cukup bagimu.
selalu ada yang baik menurutmu,
selalu ada yang lebih diatasku,
dan selalu, bukan aku yang kamu mau.

Padahal, bukan kali ini saja aku disakitimu.
terlampau banyak kali lagi yang lain kau sakiti,
ah aku cupu memang, menangis lagi dan lagi..
seakan baru kali ini disakiti.
padahal kan,
berulang kali...

kau jahat.
kau itu jahat.
bisa bisanya,
memandang wanita lain
dan berharap membersamainya
ketika aku,
bersusah diri menghadapimu,menunggumu,tabah denganmu, dan mengalah atasmu..

kau jahat,
teramat jahat.
ketika aku berbangga diri membanggakanmu didepan mereka,
engkau berbalik membanggakan mereka didepanku.
wanita mana yang kuat hatinya ?

berbalik arah lah,
lihat aku.
lihat mataku.
lihat tiap apa yang aku perjuangkan untukmu!
lihat tiap sakit yang terus aku sabari!
lihat,
matamu fokuskan saja ke aku, ke sakitku.
jangan kepada yang lain,yang diatasku.
karna akan selalu ada yang lebih baik ketika engkau hanya berfokus pada kurangku,lemahku, dan ketidakberdayaanku.

Rabu, 12 September 2018

Ingin

sore ini,
seperti biasanya.
ada ilmu yang harus aku sampaikan,kepada mereka yang memang membayarku untuk itu.
padahal, sebenarnya akupun tidak dibayar tidak mempersalahkannya,aku hanya ingin menjadi yang bermanfaat.

langsung saja,aku tidak punya kata kata untuk memperpanjang ini cerita.
adzan sudah memanggil, ku hentikan sejenak kegiatanku dengan anak mungilku yang masih bergelut dengan pembagian yang sistem zaman sekarang makin dipersulitkan.

biasanya, kami sholat berdua. dan aku imamnya, sekalipun  hanya membaca surat surat pendek harian yang mungkin ia sudah hafal.

tapi,
kali ini berbeda.
ia enggan,
ia memilih menggelar sajadahnya bersama ibunya.
yah,aku tidak mempersalahkannya pula,barangkali ia sedang ingin membiarkanku sholat sendirian.

tapi, ketika kuambil air wudhu, Farah namanya, adik dari ia yang aku bimbing dalam matapelajarannya memegangkanku selang untuk berwudhu.
aku suka poni ratanya, aku sayang dengan pipi gembulnya, dan aku sangat bahagia memandang bulu matanya yang mengingatkanku pada seseorang.

aku senang, ia mau membantuku sekalipun hanya memegangkan selang untukku wudhu.

tapi,ternyata..
farah lebih dari itu.
"mbak,farah mau juga wudhu"
Allah, Aku sayang anak ini, shalihahkan dia. kataku dalam hati

kuiyakan permintaannya, kuajari ia dari membasuh tangan hingga kaki,berurutan.
lucunya, ketika berkumur&istinshaq ia bukan melakukannya melainkan menelan airnya hingga batuk berulang kali .
apa yang bisa aku lakukan kecuali tertawa?

selepas mencuci kaki farah, ku gendong ia. sungguh nak,kau berat sekali,batinku.
ku lekaskan diri memakai mukenah dan menggelar sajadah, begitupula farah,kupakaikan ia mukena hijau apel nya tapi apa daya, poninya tetap saja keluar dari mukena.
tapi itu menambah sisi kelucuannya.

ku kumandangkan takbir,
ku bacakan pelan surat alfatihah,
aku ternganga,
aku tak menyana,
Ketika ku lafaldzkan alfatihah Farah mengikutinya, dengan logat asli anak anak, dengan makhraj yang apa adanya, dan dengan hafalan yang terbalik balik.
ia pula mengikuti sholat dari awal hingga akhir, tidak ada takbir yang ia lewatkan, tidak ada alfatihah yang tidak ia ikuti lafaldz kan, semua tuntas habis diucapkan bibir mungilnya.

salam kuucapkan, kami berdua menengadahkan tangan.
kemudian,ku amin kan doaku,begitupula farah.
"farah, nanti kalau sudah besar ingin berjilbab?"
"iya,mau".

Allah :')
ia bukan putriku, bukan darah dagingku
aku tak menemani bayinya,
tidak pula mengajari caranya berjalan,
tidak pernah pula merasakan kebingungan ketika ia demam,
tidak pernah pula sekalipun berbahagia mengajarinya menambah kosa kata.

tapi,
kenapa?
aku menyayanginya seperti putriku?
atau,
lebih tepatnya,
akan sangat bahagia ketika aku memiliki putri, yang ia bercita cita tinggi memakai hijab,menjaga dirinya, tertib sholatnya, dan tinggi ketakwaannya.

Allah, semoga engkau permudahkan tiap apa yang aku lakukan, tiap apa yang aku inginkan dan tiap apa yang sekiranya menurutMu demi kebaikan.

Rabbi Habli Mina Shalihiin

Senin, 10 September 2018

Nikmati Resikomu

Apapun yang berat hari ini,
adalah apa yang aku pilih kemarin hari.

apapun yang membuatku sedih saat ini,
akan menguatkanku esok hari.

apapun yang menyakitkanku malam ini,
adalah pendewasaan diri.

aku meyakini itu,

segala ini,
adalah dari apa yang aku pilih.

tapi,
rasanya,
aku selalu ingin mengeluh.
terlebih,
aku ingin bersandar dipundak,
didengarkan apa yang aku rasakan,
dikuatkan apa yang aku keluhkan,
dan diseka, apa yang mataku keluarkan.
tapi
rasanya
itu hanya impi saja,
entah kapan akan nyata.

dinding blog,
atau siapapun mata yang menatap ini,
maaf jika aku melemah diri,
dan maaf jika aku harus sampai pada titik selemah ini.

aku hanya ingin ditemani,
tapi akupun sadar diri,
bahwa bukan hanya aku saja yang merasakan,
ada banyak dada yang mungkin lebih merasakan beratnya membagi diri dan hati.

Allah,maafkan aku lagi.

Jumat, 07 September 2018

Tak sebanding

sudah bukan rahasia lagi kan apa yang aku tulis?
padahal kan, aku inginnya ini kau baca nanti. ketika kau teramat rindu.

ahsudahlah, biarkan saja.
semoga kau tidak jijik dengan tulisanku,
semoga kau tidak bosan aku terus menceritakanmu,
disini.
tempat terbaik setelah tuhanku,
tempatku bercerita,
tempatku bercengkrama,
dengan diriku sendiri.

kau harus tau,
bahwa sebaik apapun yang kutulis,
semanis apapun yang kutulis,
semenyentuh apapun yang kutulis,
rasaku tak bisa diucap hanya dengan ucap,
rasaku tak bisa terwakili hanya dengan tulisan sesepele ini,
rasaku sungguh,
lebih dari apa yang engkau kira.

Dan engkau,
percayalah.
hatiku, untukmu saja.