Rabu, 12 September 2018

Ingin

sore ini,
seperti biasanya.
ada ilmu yang harus aku sampaikan,kepada mereka yang memang membayarku untuk itu.
padahal, sebenarnya akupun tidak dibayar tidak mempersalahkannya,aku hanya ingin menjadi yang bermanfaat.

langsung saja,aku tidak punya kata kata untuk memperpanjang ini cerita.
adzan sudah memanggil, ku hentikan sejenak kegiatanku dengan anak mungilku yang masih bergelut dengan pembagian yang sistem zaman sekarang makin dipersulitkan.

biasanya, kami sholat berdua. dan aku imamnya, sekalipun  hanya membaca surat surat pendek harian yang mungkin ia sudah hafal.

tapi,
kali ini berbeda.
ia enggan,
ia memilih menggelar sajadahnya bersama ibunya.
yah,aku tidak mempersalahkannya pula,barangkali ia sedang ingin membiarkanku sholat sendirian.

tapi, ketika kuambil air wudhu, Farah namanya, adik dari ia yang aku bimbing dalam matapelajarannya memegangkanku selang untuk berwudhu.
aku suka poni ratanya, aku sayang dengan pipi gembulnya, dan aku sangat bahagia memandang bulu matanya yang mengingatkanku pada seseorang.

aku senang, ia mau membantuku sekalipun hanya memegangkan selang untukku wudhu.

tapi,ternyata..
farah lebih dari itu.
"mbak,farah mau juga wudhu"
Allah, Aku sayang anak ini, shalihahkan dia. kataku dalam hati

kuiyakan permintaannya, kuajari ia dari membasuh tangan hingga kaki,berurutan.
lucunya, ketika berkumur&istinshaq ia bukan melakukannya melainkan menelan airnya hingga batuk berulang kali .
apa yang bisa aku lakukan kecuali tertawa?

selepas mencuci kaki farah, ku gendong ia. sungguh nak,kau berat sekali,batinku.
ku lekaskan diri memakai mukenah dan menggelar sajadah, begitupula farah,kupakaikan ia mukena hijau apel nya tapi apa daya, poninya tetap saja keluar dari mukena.
tapi itu menambah sisi kelucuannya.

ku kumandangkan takbir,
ku bacakan pelan surat alfatihah,
aku ternganga,
aku tak menyana,
Ketika ku lafaldzkan alfatihah Farah mengikutinya, dengan logat asli anak anak, dengan makhraj yang apa adanya, dan dengan hafalan yang terbalik balik.
ia pula mengikuti sholat dari awal hingga akhir, tidak ada takbir yang ia lewatkan, tidak ada alfatihah yang tidak ia ikuti lafaldz kan, semua tuntas habis diucapkan bibir mungilnya.

salam kuucapkan, kami berdua menengadahkan tangan.
kemudian,ku amin kan doaku,begitupula farah.
"farah, nanti kalau sudah besar ingin berjilbab?"
"iya,mau".

Allah :')
ia bukan putriku, bukan darah dagingku
aku tak menemani bayinya,
tidak pula mengajari caranya berjalan,
tidak pernah pula merasakan kebingungan ketika ia demam,
tidak pernah pula sekalipun berbahagia mengajarinya menambah kosa kata.

tapi,
kenapa?
aku menyayanginya seperti putriku?
atau,
lebih tepatnya,
akan sangat bahagia ketika aku memiliki putri, yang ia bercita cita tinggi memakai hijab,menjaga dirinya, tertib sholatnya, dan tinggi ketakwaannya.

Allah, semoga engkau permudahkan tiap apa yang aku lakukan, tiap apa yang aku inginkan dan tiap apa yang sekiranya menurutMu demi kebaikan.

Rabbi Habli Mina Shalihiin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar